KLIKFLOBAMORA.COMFransiskus Ribu, warga Desa Lelata, Kecamatan Wulandoni, Lembata, menjadi korban perbuatan tidak menyenangkan dari oknum PNS bernama Matias Teka Lamak, pegawai Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) di Desa Atakera.

Kejadian itu bermula pada tanggal 11 Maret 2026 malam. Menurut kesaksian Fransiskus, ketika pagi (12/03) saat bangun tidur, ia mendapati rumahnya (dinding rumah) seperti dilempari telur ayam.

Lantas, Fransiskus pun bertanya-tanya sebenarnya apa yang terjadi semalam, sehingga di sekitar dinding rumahnya terdapat cangkang-cangkang telur ayam, yang terlihat seperti sengaja dipecahkan dan belum lama terjadi.

Merasa penasaran, Fransiskus mengatur strategi untuk mengawasi rumah tempat tinggalnya pada malam hari dari tempat tersembunyi. Ia pun berjaga-jaga seorang diri dengan maksud bisa menangkap pelaku yang melempari rumahnya.

“Karena saya rasa aneh, akhirnya tanggal 12 malam saya pun berjaga-jaga. Siapa tahu saya bisa dapat pelaku yang lempar rumah saya,” terangnya kepada media via panggilan WhatsApp.

Benar saja, keesokan harinya (12/03), dari tempat persembunyian Fransiskus memergoki seorang laki-laki membawa telur ayam dan melemparnya ke arah pintu rumah miliknya, sekira Pkl. 23:00 Wita.

Fransiskus pun segera keluar dari tempat persembunyian lalu menangkap serta mengamankan pelaku yang melempar rumahnya dan menanyakan alasan apa pelaku melempari rumah mereka.

“Kami tanya, engko ini warga Desa Boto, tinggal di Uruor, tetapi kenapa bisa sampai di kami punya kampung dan lempar kami punya rumah pakai telur? Kira-kita alasannya apa?” ungkap Fransiskus.

Setelahnya, Fransiskus bersama anak laki-lakinya berinisiatif membawa pelaku yang melempar rumah mereka dengan telur ayam, ke rumah Kepala Desa setempat dan menanyakan motif lebih lanjut yang mendasari aksi dari pelaku yang diketahui bernama Fidelis Deona.

Dari pelaku pelemparan rumah itu, dirinya bersama beberapa warga desa yang hadir di rumah Kepala Desa Lelata mendapati jawaban bahwa pelaku sengaja melakukan aksi tersebut karena diperintahkan oleh Matias Teka.

Sementara itu, anaknya Andreas Ola Duan segera berangkat ke Pospol Wulandoni untuk melaporkan kejadian tersebut. Sekitar Pkl.00:45, pihak Pospol Wulandoni tiba di Lelata dan membawa pelaku ke Wulandoni untuk diperiksa.

“Di Pospol, Pak Jimmy tanya kenapa pelaku lempar rumah. Pelaku jawab karena Fransiskus itu suanggi. Saya kaget ketika dia bilang begitu. Saya tidak terima difitnah seperti itu,” ungkapnya.

Mendengar jawaban pelaku, Fransiskus meminta agar pelaku ditahan untuk sementara di Pospol Wulandoni karena perbuatan pelaku sangat meresahkan, namun urung dilakukan.

Pihak Pospol kemudian menyarankan agar Fransiskus membuat laporan polisi di Pospol Wulandoni, yang kemudian berkas laporan tersebut dilimpahkan ke Polres Lembata agar bisa diambil keterangan di Polres Lembata.

Hingga kini, kata Fransiskus, pihak penyidik Polres Lembata sedang memproses laporan tersebut, dan per hari ini (03/04) penyidik sudah meminta keterangan dari beberapa saksi.

“Hari ini ada pemeriksaan saksi oleh penyidik. Saya heran, kenapa Matias ini orang mengerti tapi kenapa bisa suruh orang lempar saya punya rumah pakai telur ayam,” ucap Fransiskus.

Usut punya usut, diketahui pelaku yang melempar rumah milik Fransiskus adalah seorang dukun yang dipercaya bisa menyembuhkan orang sakit.

Dukun tersebut mengaku kepada Fransiskus, cs. bahwa ia melempar rumah Fransiskus karena diduga Fransiskus yang menyebabkan luka pada kaki Matias yang sedang diobati olehnya.

“Mungkin saja pelaku melempar rumah saya karena berkaitan dengan ritual penyembuhan terhadap Matias. Jadi dia (dukun) itu bilang saya yang buat Matias punya kaki sehingga luka,” ucap Fransiskus.

Namun, menurut Fransiskus, ada kejanggalan dalam pengakuan pelaku. Ia menduga motif sebenarnya bukan praktek perdukunan, tetapi ada hal lain yang lebih urgent, entah itu apa.

Fransiskus berpendapat, bahwa alasan pelemparan rumahnya itu hanya rekayasa karena faktanya, saat pelaku dan Matias dimintai keterangan di Polres Lembata, Matias terlihat seperti orang sehat, bahkan tidak ada luka di kaki seperti dalam keterangan.

Selain itu, Fransiskus menuding bahwa apa yang dilakukan oleh Fidelis Deona diduga sudah direncanakan sebelum-sebelumnya antara Fidelis Deona dan beberapa pihak lagi. Alasannya, beberapa haris sebelumnya (09/03), Fidelis Deona sempat mengeluarkan bahasa ancaman ke anak mantu dari Fransiskus.

“Oleh karena itu saya minta penyidik bisa dalami kasus ini karena saya sangat merasa takut. Bukan hanya saya saja, tetapi semua masyarakat di desa. Apalagi perbuatan pelaku ini terjadi di malam hari. Kalau bisa usut semua sampai tuntas,” tutup Fransiskus. ***

Penulis: Don Bosko Beding

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan