KLIKFLOBAMORA.COM Siapa yang tak mengenal Luka Modric, gelandang elegan milik Klub Sepak Bola tersukses di dunia, Real Madrid. Seorang pria calm berbadan kecil yang memiliki visi permaian lebih luas dari ukuran lapangan hijau, kreatif, taktis, dan dinamis.

Di Santiago Bernabeu, Sabtu, 24/5/2025 malam, tepuk riuh dan tangis haru membahana di Stadion yang menjadi Home Base Real Madrid itu, sewaktu Modric ditarik keluar lapangan di menit ke 64′ pada laga melawan Real Sociedad.

Di satu sisi Stadion Santiago Bernabeu, seorang suporter Real Madrid mengangkat selembar poster bertuliskan ‘Gracias, Luka Tu Gloria Ya Es Eterna’ yang jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia berarti ‘Terima kasih, Luka, kemuliaanmu abadi’.

Laga yang berakhir dengan kemenangan Real Madrid itu, menjadi laga terakhir bagi sang orkestra lini tengah Real Madrid selama 13 tahun pengabdiannya. Bersama Real Madrid, Modric berhasil meraih 4 gelar La Liga, 6 gelar Liga Champions Eropa, dan 5 gelar Piala dunia antar Klub.

Langkah kaki berat berjalan menuju pinggir lapangan sembari bertepuk tangan dan melambai ke arah penonton, menjadi akhir kisah indah Real Madrid bersama Luka Modric. Di tepi lapangan, sahabat karibnya Tony Kroos memberi pelukan erat untuk rekan duetnya di lini tengah Real Madrid.

Luka Modric, Dari Biasa Saja Menjadi Luar Biasa

Awal perjalanan karier sepak bola Luka Modric terbilang biasa saja. Tidak seperti para gelandang tengah yang pernah menjadi tandemnya di Real Madrid, seperti Xabi Alonso, Tony Kroos, Casemiro, Camavinga, Bellingham, dan Tchouameni.

Dia datang dengan senyap tanpa embel-embel yang melabeli dirinya seperti young star, atau super star, atau wonder kid. Namun siapa sangka, Modric kemudian menjelma sebagai gelandang klass wahid di jagat sepak bola bersama Real Madrid.

Kisahnya dimulai dari klub Dinamo Zagreb, Croatia, tahun 2002 silam. Di klub itu, Modric berkembang dalam senyap. Dia sempat dipinjamkan ke beberapa klub sampai pada akhirnya, Tottenham Hotspur membelinya di tahun 2008.

Tottenham Hotspur kala itu pun masih menjadi klub papan tengah di Liga Inggris. Pelan tapi pasti, bersama pemain seperti Aron Lenon, Dimitar Berbatov,  Jermaine Jenas, Roby Kane, dan Gareth Bale. Mereka berhasil membuat Tottenham Hotspur sebagai kekuatan baru di Liga Inggris di bawah tangan dingin Harry Redknapp.

Tottenham pun menjelma jadi klub yang menakutkan dan mulai bisa bersaing dengan tim-tim yang dijuluki The Big Four, seperti Arsenal, Manchester United, Liverpool, dan Chelsea yang juga saat itu sedang panas-panasnya di kompetisi Eropa dan Inggris.

Modric mejadi otak Otak dari permainan Tottenham Hotspur. Puncaknya, bersama Gareth Bale di musim 2010/2011 Tottenham tampil beringas dengan membantai Inter Milan pada penyisihan grup Liga Champions dan keluar sebagai juara Grup A.

Meski sudah tampil mengesankan di Liga Champions, nama Modric tidak sepopuler Gareth Bale. Modric masih tenggelam dalam kesohoran Gareth Bale yang saat itu dilihat sebagai tulang punggung Tottenham Hotspur.

Perjalan Tottenham Hotspur kala itu terhenti di perempat final setelah kalah dari Real Madrid, namun Di Liga Inggris, Tottenham berhasil bertengger di peringkat ke-5 klasmen Liga Inggris. Sejarah gemilang Modric pun mulai bersinar.

Di musim 2011/12 Modric secara konsisten memberi performa gemilang di atas lapangan. Dia berhasil menghantar Tottenham Hotspur menduduki peringkat ke-4 klasmen Liga Inggris. Namanya mulai dikait-kaitkan dengan klub-klub besar di dunia.

Tahun 2012, Real Madrid datang dengan tawaran yang menggiurkan. Modric dinilai seharga £25 juta + £5 juta apabila di Real Madrid Modric bisa memberi prestasi bagi klub tersebut. Dan di usianya kala 26 Th, Modric resmi sebagai pemain Real Madrid dan seperti yang kita kenal sekarang.

Berprestasi Bersama Real Madrid

Selama 13 tahun di Real Madrid, Luka Modric adalah pemain kunci di lini tengah Real Madrid. Sejak bergabung pada 2012 silam, Modric berhasil mempersembahkan total 28 trophy untuk Real Madrid.

Lini tengah Madrid dibuatnya begitu kokoh, atraktif, dan dinamis. Dia pernah bertandem dengan Xabi Alonso, Casemiro, Tony Kroos, dan para gelandang belia lainnya seperti Camavinga, Bellingham, dan Tchouameni.

Mereka membentuk suatu skema permainan yang menakjubkan. Kehadiran Modric di antara para juniornya, menjadi pelajaran berharga bagi mereka. Dia seperti teori hidup bagi bakat-bakat muda Real Madrid, dan bahkan bakat-bakat muda lainnya di dunia.

Syarat pengalaman dan bermental juara adalah diri Modric yang sejati. Hal itu pula yang dibawa Modric sampai ke Timnas Croatia kala membawa Croatia menembus final Piala Dunia 2018, sebelum ditumbangkan Timnas Prancis pada partai final.

Pada tahun 2018, Modric meraih 3 penghargaan individu sekaligus yakni, Balon D’or, Best Player in Europa, Best FIFA MAN’S Player, dan Croatia Player of The Year. Berikut rincian trofi Luka Modric selama berseragam Real Madrid:

*Liga Champions UEFA: 6 trofi
*Piala Dunia Antarklub FIFA: 6 trofi
*Piala Super UEFA: 5 trofi
*La Liga: 4 trofi
*Piala Raja Spanyol (Copa del Rey): 2 trofi
*Piala Super Spanyol: 5 trofi

***

Penulis: Don Bosko Beding

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan