(Catatan Red Aksi, bukan Redaksi)
KLIKFLOBAMORA.COM – Di beranda selatan negeri khatulistiwa, tepatnya di pulau yang diyakini sebagai tempat para dewa bersemayam, tarian Padoa masih melara di antara deru daun lontar yang disapu angin tanpa henti.
Padoa, tarian yang semestinya memancarkan rasa syukur atas anugerah kehidupan, hari-hari ini seakan kehilangan makna. Ia tersandera oleh janji-janji kesejahteraan yang saban musim politik didengungkan para penguasa melalui slogan-slogan pembangunan yang tak kunjung menemukan wujud nyata.
Di tanah itu, ribuan kerbau, sapi, domba, dan kambing merumput di hamparan savana yang membentang luas di atas batu-batu karang yang tajam. Batu-batu itu saban hari menggores telapak kaki para gembala yang semakin renta, sementara usia terus menggerus tenaga mereka di tengah ketidakpastian hidup yang tak kunjung berakhir.
Tidak sampai di situ. Perahu-perahu Bugis yang biasanya berlabuh di pesisir untuk mengangkut ternak menuju Sulawesi tak kunjung tampak di tengah ganasnya musim barat. Akibatnya, ternak yang selama ini menjadi tumpuan hidup masyarakat terjebak dalam kebuntuan pasar.
Semua kegelisahan itu tampak tanpa suara dari kerutan yang semakin dalam di dahi para gembala setiap pagi. Di saat yang sama, telepon genggam mereka terus berdering membawa pesan dari anak-anak yang sedang menempuh pendidikan di seberang pulau. Ada yang meminta uang kos, uang kuliah, bahkan sekadar biaya makan. Pelik memang nasib mereka.
Sementara itu, di pesisir yang menghadap bentangan laut biru nan ganas, persoalan lain juga menumpuk. Para petani garam hanya bisa menatap hamparan kristal putih yang menggunung di gudang-gudang sederhana dan bedengan produksi mereka.
Bukan karena garam itu tidak berkualitas, melainkan karena mereka tidak tahu harus menjualnya ke mana. Persoalannya tidak lagi sekadar bagaimana memproduksi garam, tetapi bagaimana memastikan garam itu memiliki pasar yang pasti dan jaringan distribusi yang kuat.
Mereka tidak memiliki akses pasar yang mampu menghargai kerja keras mereka dengan harga yang layak. Ironisnya, di saat garam rakyat menumpuk tanpa pembeli di Pulau Sabu, pemerintah justru terus memperluas pembangunan tambak garam di berbagai wilayah Nusa Tenggara Timur, termasuk di Pulau Rote dan Pulau Timor.
Pertanyaannya sederhana: untuk siapa produksi terus ditingkatkan jika persoalan pemasaran dan distribusi belum terselesaikan?
Paradoks pembangunan itu terus berulang. Daerah yang kaya ternak kesulitan menjual ternaknya. Daerah penghasil garam kesulitan memasarkan garamnya. Sementara masyarakat yang bekerja keras dari pagi hingga petang justru berada pada posisi paling lemah dalam rantai ekonomi.
Begitulah wajah kehidupan di Negeri Sejuta Lontar. Sebuah negeri yang kaya sumber daya, tetapi masih kesulitan menghadirkan kesejahteraan bagi mereka yang menjadi penopang utamanya.
Sampai kapan tarian Padoa akan terus menari di tengah himpitan ketidakpastian? Sampai kapan para gembala dan petani garam hanya menjadi penonton di tanah yang sesungguhnya mereka hidupi?
Pembangunan semestinya tidak berhenti pada slogan dan pidato. Ia tidak cukup hanya diteriakkan melalui jargon “Ayo Bangun NTT” yang terus menggema dari podium ke podium. Pembangunan harus hadir dalam bentuk pasar yang berpihak, distribusi yang adil, dan kebijakan yang benar-benar menjawab kebutuhan rakyat.
Sebab kesejahteraan bukanlah slogan yang dipekik berulang-ulang. Kesejahteraan adalah kenyataan yang dapat dirasakan oleh mereka yang setiap hari bergelut dengan terik matahari, kerasnya angin selatan, dan ketidakpastian harga hasil produksi mereka.
Karena itu, tidak berlebihan jika masyarakat Pulau Sabu berharap Gubernur Nusa Tenggara Timur, Emanuel Melkiades Laka Lena, datang dan melihat langsung denyut kehidupan mereka.
Gubernur Melki harus hadir mendengar keluhan para gembala, menyaksikan tumpukan garam yang tak kunjung terserap pasar, dan merasakan sendiri persoalan yang selama ini hanya menjadi laporan di atas meja birokrasi.
Pulau Sabu dengan sekitar 96 ribu jiwa penduduknya tidak membutuhkan belas kasihan. Mereka hanya membutuhkan kehadiran negara lewat Gubernur Melki yang sungguh-sungguh mendengar, memahami, dan menghadirkan solusi.
Apalagi, sejak dilantik menjadi Gubernur, belum pernah sekali juga telapak kakinya mendarat di negeri Do Hawu. Ada kerinduan yang besar dari mereka untuk Gubernur hadir menyapa mereka, membawa harapan baru bagi gerbang selatan Indonesia.
Sebab bagi masyarakat di beranda selatan republik ini, pembangunan bukanlah tentang seberapa lantang slogan diteriakkan, melainkan seberapa nyata manfaatnya dirasakan dalam kehidupan sehari-hari. ***
Penulis: Don Bosko Beding






