KLIKFLOBAMORA.COM – Marina Abramovic, seniman fenomenal yang berhasil mengguncang dunia lewat eksperimen pertunjukan seni yang melibatkan penikmat seni sebagai bagian dari pertunjukan seni. Ia menghadirkan adegan nyata yang menguras emosi, bahkan sakit fisik.
Lahir di Belgrade, 30 November 1946 silam, Marina Abramovic tumbuh dan mendedikasikan hidupnya pada seni pertunjukan. Ia bahkan mendorong seni pertunjukan sampai pada batasan-batasannya, dan membuat pertunjukan menjadi lebih nyata.
Semua bermula dari Kota Naples. Marina Abramovic menggelar suatu pertunjukan seni yang real dengan melibatkan penonton sebagai pelaku pertunjukan seni sementara dirinya berperan sebagai objek bagi para penonton untuk mengekpresikan seni dalam diri masing-masing.
Pertunjukan seni bertajuk Rhythm 0 pun digelarnya; sebuah mahakarya fonemenal yang kemudian sukses mengantarnya pada pengakuan sebagai nenek seni pertunjukan dunia. Pasalnya, totalitas pertunjukan seni nyaris menghabisi nyawa Mariana Abramovic.
Dalam pertunjukan seni Rhythm 0 tersebut, Mariana Abramovic menyediakan 72 alat peraga bagi siapa saja penonton yang ingin mengekspresikan seninya pada tubuhnya yang sengaja diam membiarkan para penonton menggunakan alat peraga pada tubuhnya.
Ada bulu, mawar berduri, parfume, roti, anggur, madu, paku, gunting, batang logam, peluru, pisau bedah, dan bahkan senjata api. Satu persatu penonton mulai menggunakan alat-alat peraga yang tersedia pada tubuh Marina Abramovic.
Awalnya para penonton mengekspresikan seni dengan cara yang normal, seperti mengoles madu pada tubuh Marina Abramovic, atau mengusap-usap bulu pada tubuhnya. Namun, berjalannya waktu pertunjukan seni mulai menujua pada apa yang disebutnya karakteristik seni sejati masyarakat (penonton).
Salah satu penonton menggunakan pisau merobek kulitnya (leher), kemudian mengisap darah dari luka sayatan yang timbul. Pakaian yang Marina Abramovic kenakan, satu persatu robek dan terlepas dari tubuhnya, hingga Ia telanjang berdiri diantara ribuan penonton seni pertunjukan itu.
Puncaknya, seorang penonton meraih senjata api dan menodongkan ke kepala Mariana Abramovic. Di titik klimaks itu, munculah sebagian kelompok penonton yang melerai dan menggagalkan aksi tersebut. Jika tidak, Marina Abramovic bisa saja tewas seketika di akhir pertunjukan seni.
Bagi Marina Abramovic, semuanya dilakukan tanpa paksaan dan natural menurut ekspresi seni para penonton. Ia tidak marah meski tubuhnya penuh luka dan berlumuran darah, bahkan telanjang dan nyaris mati di ujung peluru senjata api yang disediakannya.
Usai pertunjukan seni Rhythm 0, Marina Abramovic mengungkap bahwa Ia sengaja membiarkan tubuhnya dieksploitasi oleh para penonton selama 6 jam untuk melihat seni pertunjukan seperti apa yang diharapkan oleh para penonton.
“Ini bukan tentang tubuh. Ini tentang pikiran yang mendorong Anda ke hal ekstrim yang Anda tidak bisa bayangkan. Saya ingin melihat penonton memerankan suatu adegan ketika artis tidak bisa berbuat apa-apa. Saya ingin tahu apa yang mereka lakukan dalam situasi seperti ini,” ujar Marina Abramovic.
Aksi-aksi memukau nan ekstrim Marina Abramovic, turut mengundang komentar Kritikus seni, Thomas McEvilley, yang tidak habis memuji Marina Abramovic sebagai pemeran seni yang sangat berkomitmen pada karya seni yang dimainkannya.
“Berbagai serangan seksual minor dilakukan pada tubuhnya. Ia sangat berkomitmen pada karya ini, sehingga Ia tidak akan melawan perkosaan atau pembunuhan,” puji Thomas McEvilley.
Meski dipandang sebagai pemeran seni yang mampu mendorong seni peran melampaui batas seperti pada karya seni Rhythm 0, Marina Abramovic tetap tidak terhindar dari kecaman karena dinilai terlalu berlebihan mengeksplorasi tubuh dan emosi dalam pertunjukan seni.
Mereka berkonspirasi bahwa yang dilakukan Marina Abramovic bukan pertunjukan seni sejati, melainkan sebuah karya yang menebar sensasi untuk menjadi titik perhatian. Karya-karyanya dilihat sebagai seni pertunjukan yang memicu ketidaknyamanan, alih-alih menghibur.
Atas segala kritik itu, Marina Abramovic mengaku merasa sedih dan menyayangkannya. Sejujurnya Ia tidak ingin mati lewat adegan-adegan ekstrim yang dilakukannya tetapi Ia hanya ingin menghadirkan karya seni yang nyata dari sekedar peran palsu yang dilakonkan oleh seorang artis dalam pertunjukan seni.
“Teater itu palsu. Pisau itu tidak nyata, darahnya tidak nyata, dan emosinya tidak nyata. Kinerja justru sebaliknya; pisau itu nyata, darah itu nyata, dan emosinya nyata,” ungkap Marina Abramovic. ***
Penulis: Don Bosko Beding






