KLIKFLOBAMORA.COM – Seorang pelajar atlet Sekolah Keberbakatan Olahraga (SKO) Flobamorata Kupang dari Cabang Olahraga (Cabor) Taekwondo, Fernando Tibo Olla (16), dikeluarkan dari SKO Kupang tanpa prosedur atau mekanisme yang jelas.
Pernyataan ini disampaikan oleh Bobby Pakh, usai melakukan pendamping terhadap Nando Olla dan ayahnya, Sulaeman Olla, untuk mengadukan persoalan ini kepada Meja Rakyat, di Kantor Gubernur Provinsi NTT, Jumat, 11/07/2025 siang.
Kepada media, Bobby Pakh menyampaikan keberatan dan kekecewaan setelah Fernando Tibo Olla dikeluarkan dari SKO Kupang tanpa mekanisme yang benar mengingat Nando sebagai seorang atlet Taekwondo yang berprestasi dan direkomendasikan oleh Cabor Taekwondo bersekolah di SKO Flobamorata Kupang.
“Kita tidak bisa langsung keluarkan anak itu dari sekolah, apalagi di sekolah kusus untuk menjadi atlet. Kalau hanya karena penilaian satu dan dua hal terus dia dikeluarkan, sedangkan dia masuk melalui seleksi menjadi seorang atlet,” ungkap Bobby.
Ia menjelaskan, dirinya telah mengkonfirmasi ke Ketua Taekwondo Kota Kupang, Fransisco Bernando Bessi, perihal persoalan ini, dan mendapat jawaban bahwa dari pihaknya tidak tahu persoalan yang tengah dihadapi oleh atlet Taekwondo yang pernah pernah menyabet medali emas pada turnamen Taekwondo di Atambua 2023 yang lalu itu.
“Saya sudah sampaikan, tanyakan ini ke Pak Sisko Besi, Ketua Tawkwondo NTT, dan dia juga tidak mendapat pemberitahuan terkait pemberhentian atletnya di SKO,” jelas Bobby Pakh.
Lebih lanjut Bobby Pakh menjelaskan mekanisme pemberhentian atlet Taekwondo Nando Olla dari SKO Kupang, seharusnya melewati mekanisme seperti pemberitahuan terhadap Cabor Taekwondo terlebih dahulu, kemudian Cabor Taekwondo menyampaikan ke pihak orang tua, karena Nando Olla dimasukkan ke SKO Flobamorata Kupang oleh Cabor Taekwondo.
“Dengan adanya pemberhentian ini, kita merasa bahwa harusnya dari cabor yang menyampaikan ini ke orang tua karena orang tua menitipkan ini di cabor, cabor menitipkan ini di sekolah. Sehingga mekanismenya itu harus seperti itu. Bukan langsung kepala sekolah sampaikan ini di orang tua,” jelasnya lebih lanjut.
Untuk itu, Bobby Pakh akan menyampaikan masalah ini kepada Gubernur NTT dan meminta agar siswa berkaitan tetap berada di SKO Flobamorata Kupang, apalagi mengingat tidak lama lagi PON 2029 akan digelar di NTT dan NTB serta Nando adalah atlet yang direkomendasi oleh Cabor Taekwondo.
“Kami hanya minta cuma satu bahwa mekanisme, cara semua harus kita sesuaikan. Kasihan. Kita mau hadapi PON tetapi atlet kita buat seperti ini. Dan saya minta kepada Pak Kadis (P&K) Provinsi dan juga Pak Gubernur dan Pak Wagup, karena orang tua bawa pengeluhannya disini, hanya minta untuk anaknya tetap sekolah disini,” tutupnya.
Sementara itu Kepala Sekolah Keberbakatan Olahraga Flobamorata Kupang, Hironimus Pati, S.Pd., MM., mengungkapan, degradasi terhadap siswa SKO bukan hal baru yang dilakukan di SKO Flobamorata Kupang.
Ia menjelaskan, sebelum melakukan degradasi, sekolah terlebih dahulu melakukan evaluasi yang dilakukan secara rutin yakni evaluasi triwulan, semester, dan tahunan dengan alat evaluasi yang terukur.
“Konkritnya bahwa di SKO ini ada 3 raport yang kemudian dikasih ke peserta didik atau atlet ini, yakni ada raport akademik seperti sekolah reguler lainya, ada raport olahraga dan terakhir ada raport pintar,” jelasnya.
Terkait dengan degradasi yang dilakukan terhadap atlet pelajar, khususnya terhadap atlet pelajar Fernando Tibo Olla dari Cabor Taekwondo, karena dengan alasan atlet pelajar tersebut tidak menunjukkan perkembangan latihan yang meningkat serta rekam jejaknya yang tidak memberikan prestasi.
“Dari data yang ada, dari raport olahraga yang kemudian diinput dalam raport pintar, ketika test awal, kemudian test triwulan, kemudian kami test lagi, perkembanganya tidak naik, dan lihat di rekam jejak prestasinya juga tidak memberikan prestasi,” ungkap Pati.
Ia menjelaskan, secara prosedur selama ini SKO dalam hal degradasi terhadap atlet pelajar, penyampaian dilakukan seperti biasa, yakni disampaikan langsung ke orang tua tanpa terlebih dahulu lewat cabang olahraga.
“Jadi terkait dengan degradasi, teristimewa Fernando Tibo Olla, kami sudah menyampaikan kepada orang tua, kepada pihak-pihak yang mengkonfirmasi, dengan alasan-alasan demikian. Juga kami sudah membuat laporan ke Dinas Pendidikan dengan melampirkan bukti-bukti,” tegasnya.
Ia menjelaskan SKO ini sendiri adalah sekolah dengan layanan khusus atau sekolah khusus yang mendidik dan melatih anak-anak yang punya bakat istimewa dalam bidang olahraga.
Tentu dengan layanan khusus, SKO berbeda dengan sekolah reguler lainnya atau SMA-SMA reguler yang lain, maka manajemen pengelola dan tata kelola berbeda, sehingga evaluasi terhadap atlet pelajar juga berbeda. ***
Penulis: Don Bosko Beding






