(Refleksi Sudirman Said Tentang Flores)

KLIKFLOBAMORA.COMSudirman Said, ketika ke Pulau Flores untuk menghadiri acara pengukuhan gelar Guru Besar, Prof. Dr. Otto Gusti Negong Madung, membawa pesan mendalam dari peremenungan singkat di jantung Capa De Flores, Ledalero, Sikka, NTT.

Jiwanya tersentak akan nasionalisme yang tumpang tindih; antara visi masa depan yang menggaung dari mulut para elite negara di pusat, dengan realitas masyarakat di pelosok negeri, yang hari ini terendap sunyi oleh jarak dan waktu.

Di Ledalero, Sudirman Said mendengarkan pidato pengukuhan Guru Besar Rektor Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif (IFTK) Ledalero, Prof. Dr. Otto Gusti Negong Madung, SVD tentang legitimasi kekuasaan.

Kalimat-kalimat Prof. Dr. Otto Gusti Negong Madung, SVD berjalan pelan, serius, dan penuh kedalaman makna dari atas mimbar, tepat di hadapan para tamu undangan serta kaum intelektual muda dari rahim Ledalero yang jauh dari kebijakan para penguasa di negeri ini.

Sontak, Sudirman Said terhenyak. Ia tersadar, seperti baru bangun dari mimpi. Ternyata, pola pikir cerdas, kritis dan solutif telah ada di tempat yang ‘sepi’; sangat kontradiktif dengan gelora gairah semangat pembangunan menuju Indonesia Emas.

“Kami menyadari, tradisi berpikir di tempat ini lebih tua dari republik, dan ia melahirkan orang-orang yang tidak hanya tajam, tetapi punya bobot moral yang terasa hidup,” tulisnya.

Ia semakin terkagum-kagum ketika melihat langsung dinamika kehidupan masyarakat Flores, hingga sadar bahwa kesenjangan antara masyarakat Flores dengan bagian lain di Indonesia masih terlalu nyata untuk diabaikan.

Padahal pemikiran manusia-manusia yang lahir di atas Pulau Bunga itu, telah melampaui batas-batas stigma yang sering muncul sebagai narasi miris, seolah-olah orang Flores jauh tertinggal dari masyarakat Indonesia di wilayah lainnya.

Puncaknya, ketika Sudirman Said bertolak ke tempat Pancasila menjadi buah dari permenungan dalam keterasingan seorang pemimpin Bangsa, Ir. Soekarno kala itu, tepatnya di serambi Biara Santo Yosef Ende.

“Di sanalah sang proklamator dulu merenung, mencari jawaban atas masa depan Bangsa. Atmosfer itu masih terasa kuat, mengingatkan kita bahwa Indonesia lahir dari dialektika pemikiran yang jernih,” ungkapnya.

Selanjutnya, kekaguman Sudirman Said tidak hanya sampai di serambi tempat Ir. Soekarno merenung, tetapi semakin diperkuat dengan diskusi bersama Uskup Agung Keuskupan Agung Ende, Mgr. Dr. Budi Kleden, SVD.

“Kami bertukar pikiran tentang isu sosial dan kemasyarakatan. Setiap kalimat Beliau datang dari tempat yang dalam, dari seorang yang terus mengasah nuraninya,” puji Sudirman Said.

Bagi Sudirman Said, pertemuan dengan tokoh seperti Dr. Budi Kleden selalu meninggalkan perenungan mendalam yang diikuti harapan.

Bisa diartikan, tokoh seperti Dr. Budi Kleden adalah ‘oase’ di tengah padang tandus yang panas; sosok pembawa damai di tengah toleransi di Indonesia yang kian tergerus.

Akhir perjalanannya di Flores, keyakinannya tentang pemikiran manusia-manusia Flores yang telah jauh melampaui batas kecerdasan dan kebijaksanaan yang paling dibutuhkan oleh generasi emas Indonesia di tahun 2045 itu kian menguat.

Sebuah diskusi yang diadakan bersama civitas akademika IFTK Ledalero tentang menjaga Indonesia melampaui 2045, seakan membuatnya semakin tenggelam dalam pusar kekagumannya tentang manusia Flores.

Baginya, diskusi semacam itu tidak terpikirkan oleh para elite di negeri ini. Yang dipikirkan hanya sebatas bagaimana cara mencapai Indonesia emas, tanpa berpikir bagaimana cara menjaganya setelah tahun 2045.

Dari sanalah Sudirman Said berkesimpulan bahwa generasi muda yang berdiri di hadapannya itu, penting untuk dilibatkan dalam perjalanan menuju Indonesia Emas di tahun 2045 nanti.

“Berdiri di depan wajah-wajah muda Flores, membuat sadar bahwa 2045 tidak bermakna apa-apa jika mereka tidak benar-benar ikut di dalamnya,” kata Sudirman Said.

Bukan tanpa alasan Sudirman Said berpikir demikian. Ia menguliti penggalan lirik lagu yang diciptakan oleh W.R. Supratman, Indonesia Raya, ‘Bangunlah jiwanya’, setelah itu, ‘Bangunlah badannya’ adalah representasi sesungguhnya dari manusia-manusia Flores.

Menurutnya, para intelektual dan tokoh agama di Flores telah melakukannya sudah sejak lama dengan persis, serius, dan dengan sunyi. Hanya sayangnya, kata Sudirman Said, mereka belum didengar oleh Bangsa.

“Tapi kita sebagai bangsa belum cukup mendengarkan mereka. Pembangunan kita terlalu sibuk dengan proyek populis dengan anggaran besar, sementara ruh moralnya tertinggal di belakang,” ucapnya.

Dampaknya, lanjut Sudirman Said, jiwa dan badan bangsa ini tidak sinkron. Ia menyebut; tanpa jiwa yang kuat, tanpa nilai yang turun hingga tata kelola, semua yang dibangun hanya akan berdiri di atas fondasi yang rapuh.

Flores mengingatkan kita, bahwa jiwa itu masih ada, masih dijaga, dan masih dirawat oleh orang-orang yang tidak banyak menepuk dada. Sebuah refleksi kritis, untuk panggung politik elite negara yang sibuk dengan pencitraan.

“Tugas kita adalah memastikan pembangunan fisik menjiwai ketajaman intelektual dan keluhuran spiritual,” pesan Sudirman Said. ***

Penulis: Don Bosko Beding

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan