KLIKFLOBAMORA.COM – Pengurus Kesatuan Perempuan Partai Golkar (KPPG) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), dalam rangka memperingati HUT KPPG yang ke-23, Minggu, 25/5/2025, menggelar acara Talk Show bertema Perempuan NTT Terlindungi Dari Ancaman Negatif Media Digital, di Aula Gedung Golkar Provinsi NTT.
Acara yang menghadirkan narasumber-narasumber berkompeten dari kalangan akademisi, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), Lembaga Perlindungan Perempuan dan Anak (LPPA), OKP, serta para mahasiswa itu membahas tentang etika komunikasi digital, dampak psikologis kekerasan seksual, serta langkah-langkah hukum dan pendampingan yang dapat ditempuh oleh korban.
Sekertaris DPP 1 Golkar NTT, Welhelmintje S. Libby Sinlaeloe, mewakili Ketua DPP 1 Golkar NTT yang tidak sempat hadir, Emanuel Melkiades Laka Lena, dalam sambutannya mengatakan tujuan acara ini untuk menekan jumlah tingkat kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak di wilayah NTT yang meningkat belakangan ini.
“Tantangan kita bukan hanya teknologi, tapi juga kurangnya kesadaran hukum dan etika dalam berinteraksi di ruang digital, sehingga diharapkan kegiatan ini bisa mengedukasi kita untuk berhati-hati dan bertanggung jawab dalam penggunaan media sosial,” pungkas Sinlaeloe.
Sementara itu, Abdi Keraf, Dosen Psikologi Undana (nara sumber) mengatakan bahwa cara mencegah kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak harus dimulai dari diri sendiri. Dia menegaskan bahwa penting bagi semua orang untuk bisa membentengi diri dengan cara memperkuat sistem pertahanan diri yakni dengan cara merefleksikan diri secara utuh.
“Dari perspektif psikologi, jika kita semua bisa merefleksikan diri secara utuh dan mengedukasi diri dan lingkungan sosial kita dengan konsep pendekatan ekologis, maka kekerasan seksual yang terjadi di media digital tidak akan terjadi,” tutur Abdi Keraf.
Menurut Abdi, semua orang memiliki ruang privasi sebagai individu, sehingga tidak semua aktivitas seseorang harus diekspresikan ke akun-akun media sosial. Hal ini tentu untuk mencegah terjadi kekerasan seksual terhadap perempuan di sosial media.
Selain itu terkait dengan penggunaan media sosial di kalangan anak-anak, Abdi menekankan bahwa orang tua harus paham tentang literasi digital, sehingga bisa membatasi juga waktu penggunaan media sosial di kalangan anak-anak, agar anak bisa dikontrol untuk hal-hal negatif yang bisa saja terjadi pada diri mereka lewat media sosial, termasuk kekerasan seksual.
Acara Talk Show ini diakhiri dengan penandatanganan petisi kesepakatan bersama untuk menolak kekerasan seksual terhadap perempuan berbasis digital, yang disaksikan juga oleh Ketua Umum Partai Golkar Indonesia, Bahlil Lahadalia. ***
Penulis: Don Bosko Beding






