KLIKFLOBAMORA.COMMeninggalnya Yerdi Efrosina Beukliu (22), mahasiswi semester IV Program Studi (Prodi) Bahasa Indonesia, Universitas Persatuan Guru (UPG) 1945 NTT, menyisahkan tanda tanya besar perihal sebab musabab kematiannya.

Pasalnya, ada sejumlah kejanggalan yang ditemukan di lokasi kejadian, tempat pertama kali ia ditemukan dalam keadaan sudah tidak bernyawa lagi pada Sabtu, (09/05/2026) sore, sekira Pkl. 17:00 Wita.

Dari keterangan beberapa sumber terpercaya media yang tidak ingin dicatut namanya dalam pemberitaan mengatakan, saat pertama kali Yerdi ditemukan, posisi tubuhnya dalam keadaan telungkup sambil memegang perut.

“Posisi tubuhnya telungkup dengan kedua tangan memegang perutnya. Seperti orang yang sedang mengerang kesakitan atau sedang menahan rasa sakit,” ungkapnya.

Selain itu, di tempat kejadian juga ditemukan bercak darah yang menempel pada jendela kamar yang tertutup, meski jendela tersebut tidak terkunci dari dalam. Pada fisik korban juga, lanjutnya, ditemukan darah di paha dan bahkan alat vitalnya bengkak.

Mereka menduga, kematian mahasiswi asal Ayotupas, Amanatun Utara, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) ini akibat kekerasan fisik, apalagi pada pipi kiri dan kanan Yerdi terlihat biru balau akibat adanya kekerasan fisik.

“Kepala almarhum juga seperti kena benturan keras. Bukan itu saja, di lehernya juga ada memar. Diduga, seperti dicekik seseorang sehingga ada bekas memar,” katanya.

Dugaan penyebab kematian Yerdi Efrosina Beukliu pun mulai mengerucut pada orang-orang dekat, atau orang yang mengetahui secara pasti situasi kos serta kapan Yerdi berada di kamar kosnya.

Hal ini diperkuat alasan bahwa jalan keluar masuk kos, tidak biasa dilalui oleh orang lain selain para penghuni kos, karena jalan tersebut khusus bagi anak-anak kos.

Apa lagi menurut mereka, di kos terdapat CCTV yang berada di tangga lantai satu, sementara kamar Yerdi berada di lantai dua. Apabila bukan orang baru maka sudah pasti CCTV merekam pelaku saat melewati tangga lantai satu menuju lantai dua.

Belum lagi, aktivitas keluar masuk kos akan dengan mudah diketahui pemilik kos karena jalan masuk menuju kos melewati lorong antara kios dan rumah pemilik kos.

Kos juga dipagari keliling, sehingga jika benar dugaan kematian Yerdi disebabkan oleh orang lain, maka orang tersebut adalah orang yang benar-benar telah menguasai keadaan kos dengan baik.

Sementara itu dari keterangan keluarga, almarhumah sebelumnya tidak pernah memiliki riwayat sakit berat dan dalam keadaan sehat walafiat. Almarhumah hanya menelpon dan mengeluhkan sakit gigi tanggal 6 Mei 2026.

“Jumat malam, dia masih berkomunikasi dengan orang tua dan Kakak kandungnya melalui telepon WhatsApp dan mengeluh gigi sakit,” ungkap salah seorang kerabatnya.

Kesaksian yang sama juga datang dari teman-teman kuliahnya. Mereka membenarkan bahwa Yerdi Efrosina Beukliu tidak pernah mengeluhkan sakit berat. Bahkan, pada Jumat (8/05) Yerdi masih mengikuti perkuliahan seperti biasa sampai selesai pada Pkl.13:00 Wita.

Untuk diketahui, dari keterangan pemeriksaan awal medis di RS Bhayangkara Kupang, hasil pemeriksaan menunjukkan ada tanda-tanda ketidakwajaran pada tubuh korban.

Hal tersebut disampaikan oleh Rektor UPG 1945 Dr. Uly J. Riwu Kaho, saat membesuk jenasah Yerdi Efrosina Beukliu di RS Bhayangkara Kupang, sehari setelah kejadian naas (Minggu, 10/05/2026 malam).

“Malam itu kami dapat informasi dari pihak medis bahwa ditemukan tanda-tanda tidak wajar, terutama pada area alat vital korban,” ungkap Riwu Kaho.

Untuk itu, Rektor UPG 1945 beserta seluruh keluarga besar UPG 1945 NTT mengkawal dan meminta aparat penyidik Polresta Kupang Kota untuk mengusut tuntas kejadian naas yang menimpah mahasiswinya itu.

“Kalau benar ada unsur kekerasan atau tindak pidana, kami minta aparat hukum menindaklanjutinya sampai menemukan siapa pelakunya,” tegas Riwu Kaho. ***

Penulis: Don Bosko Beding

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan