Pagi yang cerah di tengah cuaca awal hari yang membingungkan. Gerimis telah lebih dulu pamit di subuh yang dingin, sementara pagi malu-malu mengintip dari balik awan tipis sedikit hitam di kaki langit barat.
Di jalan depan rumah Avanza putih telah terparkir. Belum lagi meneguk kopi selamat pagi, sopir sudah hampiri ucapkan selamat pagi. Dan selamat pagi juga, kata pertamaku di hari ini.
Jefry, laki-laki perawakan Timor yang tidak bisa dipungkiri. Giginya, rambutnya, matanya, dan senyum malu-malunya itu, adalah identitas Timor yang paling membanggakan. Satu kata, manis.
“Semalam Barcelona kalah. Apa yang terjadi denganku di pangkalan Driver Maxim hari ini? Aduh, siap dibully ini,” ketusnya sambil duduk.
“Matilah. Barcelona sudah jadi Bancilona. Kemarin sudah kukatakan, Inter Milan bukan kaleng-kaleng. Nah, sekarang paham?” tanggapku kekeh.
Jefry hanya diam. Tatapan matanya kosong. Mungkin pikirannya sedang kacau, sekacau cuaca yang dari kemarin hingga pagi ini yang membingungkan. Lalu dia tarik nafas, mengeluarkan 4 batang saliti.
“Isap. Tidak apa-apa. Setidaknya Barcelona bermain bagus. Hanya saja kurang beruntung. Ada banyak peluang tapi yah.. kalah,” keluhnya sembari menyulut rokok.
Tidak lama kemudian, ditambah Pemimpin Redaksi KoranNTT.Com., kami bergegas menuju mobil. Hari ini, Rabu, 7/5/2025, Saya dan Pemred KoranNTT. Com, akan meliput kegiatan Wakil Presiden RI di Desa Baumata Timur, Kabupaten Kupang. Jefry yang menghantarkan kami ke tempat peliputan.
Segera Avanza putih meluncur kencang di jalan menuju lokasi peliputan. Di simpang sepanjang jalan, polisi dan tentara telah berjaga-jaga, telah siap mengamankan jalur yang akan dilewati Gibran Rakabuming Raka, Wakil Presiden Republik Indonesia.
Setelah 45 menit kemudian, kami telah tiba di lokasi. ID Card bertuliskan KUNKER WAKIL PRESIDEN RI DI WILAYAH PROVINSI NTT langsung dikalungkan ke leher. Bukan sekedar untuk gagah-gagahan, tetapi supaya bisa menerobos penjagaan Paspampres dan Polisi Militer.
Ya, nyaliku sedikit menciut. Apalagi melihat tubuh tegap berwajah dingin, sangar, dan tentu berbeda dengan wajah Jefry, sopir Avanza tadi yang kami tinggalkan sendirian di luar lokasi steril tempat yang akan dikunjungi oleh putra mantan Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo.
Di lokasi yang akan didatangi Wapres Gibran, masyarakat Desa Baumata Timur telah ramai berkumpul, di tepi hamparan hijau sawah yang membentang luas. Wajah-wajah sumringah para petani menghiasi terik yang mulai menyengat, meski belum ada tanda-tanda Wapres akan segera tiba.
“Adik duduk saja dulu. Wapres belum datang, jadi bersantai dulu. Apakah mau dibuatkan kopi? Kalau mau bisa Saya ke warga untuk dibuatkan kopi buat adik,” tegur salah seorang PM yang berjaga di lokasi.
“Aman Boss. Tidak apa-apa. Apakah masih lama Wapres tiba di lokasi ini?,” tanyaku balik.
“Tidak tau saya. Saya juga bingung, dari tadi siaga terus tapi belum muncul juga. Belum lagi ada arahan agar sirene kendaraan pengawal pun tidak dibunyikan, jadi kita tunggu saja,” jawabnya sambil menatap ke arah ID Card yang menggantung di dada Saya.
Selang beberapa menit, beberapa kendaraan melaju kencang tepat di depan kami. Tebakku, itu pasti Gibran. Tetapi beberapa warga yang berdiri di depan Saya mengatakan bukan. Kalau Gibran pasti sudah ramai dari ujung jalan itu.
Namun mereka salah. Tebakanku benar saja. Dari arah tenda yang dibangun di pinggir pematang sawah, para petani laki-laki maupun perempuan, sejumlah anak sekolah yang masih berseragam, dan beberapa pegawai Dinas Pertanian berhamburan sembari memekik keras.
Mereka meneriakkan nama Gibran, menunjukkan rasa kagum dan ketidakpercayaan mereka akan kenyataan bahwa Gibran, seorang Wakil Presiden, seorang anak mantan Presiden, seorang yang dikenal rendah hati, dan seorang yang suka menolong, telah hadir di tengah-tengah mereka.
Mereka yang menyimpan rindu memberi salam, menyambut hangat, berfoto dan berjabatan tangan pada sosok yang bagi mereka adalah perwujudan pemimpin yang pro rakyat kecil, layaknya Ayah Gibran, Joko Widodo atau biasa disingkat Jokowi.
Saya pun mendekat ke kerumunan masa itu, ke arah tenda yang disiapkan untuk menjadi tempat dialog atau diskusi antara Wapres, Menteri Pertanian, Gubernur NTT, Bupati Kupang, dengan petani dari Desa Baumata Timur.
Kami pun berdesak-desakan, dorong-dorongan, dan berhimpit-himpitan hanya untuk melihat lebih dekat Wakil Presiden termuda dalam sejarah Republik Indonesia itu. Saya bahkan sampai lupa ID Card yang Saya kenakan. Seharusnya tanpa perlu setengah mati, Saya pasti dengan mudah mendekat ke Wakil Presiden. Tapi ya sudahlah.
Tiba-tiba saja di antara keriuhan suara-suara bahagia dan tangis haru para petani, Saya mendengarkan dengan jelas ada surau suara wanita tepat di belakang Saya.
“Gibran. Gibran. Kapan Lagi! Hanya Hari Ini. Kapan Engkau kembali ke sini lagi!’
Suara itu menggelitik pendengaranku. Saya lantas menoleh ke sumber suara itu. Seorang wanita tua, mengenakan kabaya hijau, dengan sarung bermotif penuh warna, sambil mengunyah pinang melangkah di anatara kerumunan masa. Saya perkirakan usianya mendekati 80 Tahun, atau mungkin lebih dari itu.
Gibran. Gibran. Kapan lagi! Hanya hari ini. Kapan Engkau kembali ke sini lagi. Saya mengulangi kata-kata itu dalam hati Saya. Sekali lagi Saya ulangi. Sekali lagi dan lagi Saya ulangi suara dari perempuan tua itu, air mata Saya menjadi mendung.
Rasanya sakit di hati. Dada menjadi sesak. Nafas pun berhembus berat. Saya membayangkan, seorang perempuan tua, di usia senjanya, masih memiliki rasa cinta yang luar biasa kepada negara, kepada pemimpin.
Ia rela-rela datang dan berdesak-desakan dengan banyak orang hanya untuk melihat sosok yang mungkin dalam hidupnya hanya sebatas didengar lewat cerita anak cucunya yang melek terhadap akses teknologi, informasi dan pengetahuan. Luar biasa.
Saya kemudian mengaitkan dengan dinamika di luar sana, dengan kalangan elite yang hari ini banyak mengecam Wakil Presiden Republik Indonesia itu, bahkan ada yang sampai meminta kepada Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) untuk mencopot Gibran dari jabatan yang sedang diembannya.
Padahal jabatan itu nyata atas amanat rakyat, dan mungkin termasuk perempuan tua tadi. Perempuan yang hidupnya tidak digaji oleh Negara seperti sekelompok orang itu. Perempuan yang hidupnya dari sawah yang hari ini menerima kunjungan dan bantuan dari seorang yang ia sebutkan namanya.
“Gibran. Gibran. Kapan Lagi! Hanya Hari Ini. Kapan Engkau kembali ke sini lagi!’
Sayangnya, moment berharga itu tidak sempat Saya abadikan dalam potret hari ini. Perempuan tua tadi yang memanggil Gibran, hilang begitu saja dan entah sekarang di mana. Saya hanya bisa menitip doa untuknya sebelum tidur malamku. ***






