Dalam rangka peringatan Hari Lahir Pancasila pada tanggal 1 Juni, Gubernur Nusa Tenggara Timur, Emanuel Melkiades Laka Lena menghadiri Seminar Kebangsaan di Kota Ende, Sabtu, 31/5/2025.
Hadir sebagai Keynote Speaker dalam Seminar Kebangsaan yang mengusung tema ‘Pancasila dalam Tantangan dan Perubahan Geopolitik Dunia’, Melki menekankan pentingnya kesadaran berpancasila di kalangan muda Indonesia. Ia mengatakan, Pancasila melihat generasi muda bukan sebagai objek pembangunan, tetapi sebagai subjek perubahan.
“Mereka adalah entitas historis yang memikul potensi dan tanggung jawab. Nilai Pancasila harus diinternalisasi melalui pendidikan yang membebaskan (liberation), membentuk kesadaran kritis dan partisipatif,” ungkap Laka Lena.
Pancasila, menurut Melki, menuntut generasi muda untuk menjadi pemimpin beretika, yang menjadikan nilai kemanusiaan dan keadilan sebagai dasar setiap inovasi dan tindakan.
Seminar yang dipandu oleh Dr. R.S. Ferry Dhae, dengan empat narasumber, yakni Politisi PDI Perjuangan Andreas Hugo Pareira, Ahli Hukum Tata Negara Prof. Dr. Satya Arinanta, Cendekiawan Kebangsaan, Dr. Yudi Latif, serta tokoh Forum Kebangsaan Pontjo Sutowo itu, Gubernur Melki mengatakan agar generasi muda harus memiliki Sense of History kesadaran akan posisi mereka dalam arus panjang perjuangan bangsa.
“Pancasila harus dihidupi dengan semangat kreatif dan terbuka, bukan dogmatis, sehingga mampu melahirkan kepemimpinan baru yang berakar dan berpandangan jauh. Sehingga tugas kita adalah menjadikan Pancasila bukan hanya hafalan dalam upacara, tapi pedoman hidup dan energi perubahan,” ujarnya.
Ia menambahkan, Pancasila harus kita bawa dalam ruang digital, dalam karya inovasi, dan dalam kepemimpinan yang adil, jujur, dan berpihak pada rakyat kecil.
Pada kesempatan yang sama, Melki juga menegaskan jati diri Kota Ende sebagai representasi Provinsi Nusa Tenggara Timur yang telah memberi sumbangsih besar terhadap sejarah Bangsa Indonesia.
Melki mengatakan, Bung Karno pada saat masa pengasingan dan perenungannya di Ende, ia menggali nilai-nilai kehidupan rakyat, menyatu dengan denyut kebudayaan lokal, dan kemudian menemukan dasar falsafah yang kelak dikenal dunia sebagai Pancasila.
“Jadi kalau daerah lain bisa sumbang hasil bumi seperti emas, gas, dan minyak, maka kita sumbang sesuatu yang tidak tergantikan, sesuatu yang tak ternilai harganya, yaitu Pancasila,” tegas Melki diiringi tepuk tangan peserta Seminari Kebangsaan.
Gubernur Melki menyebutkan, di tengah dunia yang berubah begitu cepat, ketika krisis global datang silih berganti dari pandemi, konflik bersenjata, krisis pangan, air dan energi, hingga perubahan iklim yang menghantam batas negara dan benua, namun Pancasila tetap membuat bangsa ini tetap utuh.
Melki juga menjelaskan dalam konteks pemerintahan pada saat ini, Presiden Prabowo Subianto telah menegaskan komitmennya untuk mengembalikan roh Pancasila dalam setiap aspek kebijakan nasional.
“Beliau menyuarakan pentingnya pendidikan ideologi kebangsaan, reformasi birokrasi yang berpihak pada rakyat, dan penguatan pertahanan sebagai cermin dari semangat kemandirian bangsa, semua berakar pada Lima Sila”, jelasnya lagi.
“Presiden Prabowo memandang Pancasila bukan hanya fondasi normatif, tetapi juga peta jalan (roadmap) pembangunan nasional yang berdaulat, berdikari, dan berkepribadian. Sehingga Pancasila bukan hanya dasar negara. Ia adalah wajah dan jiwa bangsa Indonesia,” timpa Melki lagi.
Melki Laka Lena juga menyebutkan ketahanan nasional bukan hanya soal militer atau ekonomi. Ketahanan sejati adalah ketika rakyat Indonesia tetap percaya pada bangsanya, saling bergotong-royong, saling menguatkan, dan tidak tercerai-berai oleh isu-isu sektarian atau manipulasi digital.
“Di sinilah Pancasila menjadi benteng ideologis dan sosial. Ia bukan sekadar falsafah, tapi juga alat ukur kebijakan publik dan kualitas kepemimpinan nasional,” ujar Melki.
Melki mengungkapkan epistemologi pembangunan di NTT menggunakan pendekatan partisipatif, dimana rakyat diajak berpikir bersama, bukan sekadar menerima keputusan dari atas. Dan ontologi yang diterapkan adalah pengakuan akan eksistensi manusia NTT sebagai warga negara penuh martabat, terlepas dari letak geografisnya.
“Di NTT, kami tidak hanya menghafal Pancasila. Kami hidup bersamanya. Kami membangun desa melalui semangat gotong royong. Kami menjaga kerukunan antarumat beragama sebagai fondasi damai sosial. Kami menghadirkan keadilan sosial dalam program kesehatan, pendidikan, dan perlindungan sosial. Kami membawa kehadiran negara hingga titik-titik terluar, dari Lembata hingga Rote, dari Sumba hingga Flores,” jelas Gubernur Melki.
“Sebagai pemimpin daerah, saya juga meyakini bahwa Pancasila harus diinstitusikan dalam program dan anggaran. Ia harus menjadi dasar kebijakan fiskal, pendidikan, perlindungan sosial, hingga tata kelola pembangunan desa dan daerah,” tambah Melki.
Oleh karena itu, Gubernur Melki mengajak semua semua kita untuk mengirim pesan pada dunia, bahwa Indonesia bukan bangsa yang bingung mencari arah, karena kita punya kompas yang jelas yaitu Pancasila. Bahwa kita bukan sekadar pasar, tetapi peradaban. Bukan sekadar negara berkembang, tetapi negara bernilai.
“Mari kita warisi api semangat Bung Karno, bukan hanya abunya. Mari kita jadikan Pancasila bukan hanya simbol masa lalu, tetapi cahaya masa depan. Mari kita kobarkan kembali semangat Ende, semangat perenungan, kesadaran nilai, dan keteguhan moral. Dari Ende, kita teguhkan komitmen kebangsaan. Dari NTT, kita nyalakan lilin peradaban. Dari Pancasila, untuk Indonesia dan dunia,” pungkas Gubernur NTT.
Hadir juga dalam seminar, unsur Forkopimda, para pimpinan perangkat daerah lingkup Pemkab Ende, para Camat, para Lurah / Kepala Desa, perwakilan Mahasiswa / Pelajar, Tokoh Masyarakat, Tokoh Pemuda, Tokoh Perempuan, serta Mitra kerja terkait.***
Penulis: Don Bosko Beding






