KLIKFLOBAMORA.COM— Rapat Anggota Tahunan (RAT) Koperasi Swasti Sari Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Minggu (26/04/2025) berakhir ‘bubar jalan’ tanpa mengahasilkan keputusan apapun atau tidak tuntas.
Hal ini dipicu oleh pimpinan sidang, Erni Katana, yang secara sepihak mengetuk palu pengesahan setelah sekertaris sidang membacakan berita acara susunan kepengurusan yang baru. Anggota RAT pun ramai berdiri dan memprotes keputusan sepihak Erni Katana.
Mereka melontarkan amarah dan menuding pimpinan sedang bertindak tidak adil selama persidangan karena memberikan keluasan bersuara pada anggota RAT yang diduga telah dipersiapkan untuk menggiring opini-opini tertentu, untuk calon pengurus tertentu.
Belum lagi, keputusan sepihak Erni Katana tersebut tanpa kehadiran Yohanes Sason Helan, salah satu calon pengurus baru Koperasi Swastisari 2026-2028 yang memilih meninggalkan forum karena merasa forum tersebut sudah tidak sehat lagi.
Menanggapi hal tersebut, Yohanes Sason Helan saat ditemui media di kediamannya mengatakan, sejak awal sudah ada upaya dari akar-akar Swastisari yang brusaha menjegal langkanya menjadi ketua.
“Kita lihat tadi malam. Itu kan skenario yang sudah dibangun. Ada proses putus di tengah. Jadi jelas bahwa Pansel tidak sampai pada pelantikan karena di tengah itu ada peralian dari Pansel ke pengurus. Nah, dari Pansel ke pengurus ini kan sebenarnya pengurus sudah punya kepentingan,” jelas Sason Helan.
Lebih lanjut Sason Helan mengatakan, pasca terjadi keributan, dirinya memutuskan untuk kembali dan tidak mengikuti pleno lebih lanjut. Saat itulah, pihak terkait melakukan voting untuk menjadikan Wilem Gery sebagai ketua.
“Padahalnya, saya adalah pemilik suara terbanyak. Suara saya 2.000 lebih, selisih 100 persen dari suara Wilem Gery karena hanya peroleh suara 1.100 lebih. Harusnya saya yang ketua, tapi itulah. Semua sudah disetting,” ungkap Sason Helan.
Padahalnya, Sason Helan saat ditanya kesediaanya menjadi Ketua Swastisari oleh Pansel, dirinya secara tegas telah menyatakan sikap siap untuk memimpin Swasti Sari kedepannya.
Ia menilai, upaya penjegalan terhadapnya sudah ada sejak awal, sejak tahap pertama hingga tahap terakhir yakni tahap ketujuh yang baru saja berlalu dalam RAT.
“Tahap pertama itu skenario bagaimana SK pembentukan panitia pemilihan ketika melihat nama saya ada, tiba-tiba mensyaratkan ijazah minimal S1. Dalam hal ini kan ijazah saya D3, supaya saya gugur,” pungkasnya.
Begitu pula dengan tahap selanjutnya yaitu Pansel serta Uji Kelayakan dan Kepatutan (UKK). Sason Helan mengungkap, bahkan upaya penjegalan terhadapnya sampai dirinya diisukan sebagai pemimpin kudeta. Isu tersebut sampai terdengar di Kementerian Koperasi.
“Pada waktu kami UKK, saya ditanyakan terkait isu ini. Saya jawab, saya tidak pernah menjadi pemimpin kudeta. Semua keputusan ada pada anggota, dan mereka mengerti. Pihak deputi mengerti,” jelasnya.
Puncak dari upaya penjegalan terhadapnya adalah saat pemilihan semalam, yang menurut Sason Helan, perolehan suara terbanyak adalah dirinya namun secara sepihak dilakukan voting sehingga posisinya yang seharusnya sebagai ketua, dijadikan sebagai wakil dan wakil dijadikan sebagai ketua. ***
Penulis: Don Bosko Beding






