KLIKFLOBAMORA – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur tidak henti-hentinya mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat lewat inovasi dan kreasi atas potensi lokal yang dimiliki masyarakat.
Launching OVOP (One Village One Product), Gerakan Beli Produk NTT serta Penggunaan Kartu Kredit Pemerintah Daerah Provinsi NTT, Selasa, 27/5/2025 sore ini, merupakan salah satu contoh bentuk dari komitmen Pemprov NTT melalui Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (PMD), mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat.
Bertempat di halaman depan halam depan Gedung Utama Kantor Gubernur NTT, Gubernur Provinsi Nusa Tenggara Timur, Emanuel Melkiades Laka Lena, secara tegas mengatakan dalam sambutan acara Launching OVOP, Gerakan Beli Produk NTT, dan Penggunaan Kartu Kredit Pemerintah Daerah.
“Program OVOP adalah wujud nyata dari komitmen kita untuk mendorong pertumbuhan ekonomi desa yang berbasis pada potensi lokal di setiap desa,” tegas Gubernur Melki.
Karena itu Gubernur mengajak setiap masyarakat desa untuk tidak hanya mengenali potensi terbaik yang dimilikinya, tetapi juga mengolahnya secara kreatif, berdaya saing, dan memperluas jangkauan pasarnya hingga ke tingkat nasional, bahkan global.
Laka Lena menjelaskan, produk lokal dari setiap desa akan dikembangkan sesuai dengan standar pasar yang ada, teruji, dan terdaftar, lalu diberi nilai tambah melalui inovasi dan teknologi, serta didorong untuk memasuki pasar yang lebih luas.
Lebih lanjut lagi Melki menerangkan, pengembangan program OVOP ini untuk mendukung Dasa Cita yang pertama yaitu, Dari Ladang dan Laut, ke Pasar: Efisien, Modern, dan Aman.
“Ini adalah panggilan bagi kita semua untuk memaksimalkan potensi alam yang kita miliki di setiap desa, dari ladang hingga laut, dan menghubungkannya dengan pasar secara efisien dan berkelanjutan,” ungkap Melki.
Gubernur Melki Laka Lena mengungkapkan, Program _One Village One Product_ (OVOP) yang dicanangkannya bersama Wakil Gubernur NTT Johanis Asadoma sangat berperan dalam menumbuhkan perekonomian masyarakat desa. Hal tersebut diungkapkannya saat membawakan sambutan dalam acara Launching OVOP, Gerakan Beli Produk NTT serta Penggunaan Kartu Kredit Pemerintah Daerah Provinsi NTT yang dilaksanakan di Halaman Depan Kantor Gubernur NTT pada Selasa 27 Mei 2025.
“Program OVOP adalah wujud nyata dari komitmen kita untuk mendorong pertumbuhan ekonomi desa yang berbasis pada potensi lokal di setiap desa,” ungkap Gubernur.
“Melalui OVOP, kita mengajak setiap masyarakat desa untuk tidak hanya mengenali potensi terbaik yang dimilikinya, tetapi juga mengolahnya secara kreatif, berdaya saing, dan memperluas jangkauan pasarnya hingga ke tingkat nasional dan bahkan global. Produk lokal dari setiap desa kita akan dikembangkan sesuai dengan standar pasar yang ada, teruji, dan terdaftar, lalu diberi nilai tambah melalui inovasi dan teknologi, serta didorong untuk memasuki pasar yang lebih luas,” jelasnya.
Melki menjelaskan, pengembangan program OVOP ini untuk mendukung Dasa Cita yang pertama yaitu adalah _Dari ladang dan laut, ke pasar : efisien, modern, dan aman_.
“Ini adalah panggilan bagi kita semua untuk memaksimalkan potensi alam yang kita miliki di setiap desa, dari ladang hingga laut, dan menghubungkannya dengan pasar secara efisien dan berkelanjutan. Tentu saja, program OVOP menjadi salah satu pilar utama untuk mengoptimalkan potensi lokal yang ada di setiap desa,” ungkapnya.
Gubernur juga menegaskan masyarakat NTT harus percaya bahwa setiap desa memiliki keunggulan yang dapat diolah dan dipasarkan ke seluruh dunia karena memiliki kekayaan alam dengan keanekaragaman hayati dari sektor pertanian, perkebunan, hasil hutan, perikanan dan kelautan, serta pariwisata dan energi baru terbarukan yang ada di NTT.
Semua kekayaan alam dan keanekaragaman hayati NTT, harus dikelola secara maksimal karena merupakan warisan kekayaan untuk dijaga dan untuk dikembangkan demi keberlangsungan hidup masyarakat Nusa Tenggara Timur.
“Dengan OVOP, kita ingin memastikan bahwa desa bukan hanya sekadar tempat tinggal, tetapi juga menjadi pusat produksi, inovasi, dan kebangkitan ekonomi rakyat. Kita ingin agar hasil bumi dan karya tangan masyarakat desa kita dihargai dengan nilai tinggi, dibeli secara adil, dan dikenal masyarakat luas,” tutupnya.
Penulis: Don Bosko Beding






