KLIKFLOBAMORA.COM — PT Bank Pembangunan Daerah (BPD) Nusa Tenggara Timur (NTT), menyetor deviden tahun 2025 sebesar Rp.29,7 miliar kepada Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTT.

Demikian yang disampaikan Charlie Paulus, Direktur Utama Bank NTT kepada media seusai rapat bersama Komisi III DPRD NTT, Rabu (21/01/2025) siang.

Charlie Paulus mengatakan, setoran deviden dari Bank NTT pada tahun 2025 mengalami penurunan karena dipengaruhi sejumlah faktor; salah satunya yaitu pendapatan tahun 2025 tidak mencapai target.

“Deviden lebih kecil itu, pastinya profitnya lebih rendah kan. Profit itu hanya terdiri dari pendapatan dan biaya. Artinya pendapatan di bawah target, biayanya di atas target, akibatnya profitnya jauh lebih rendah,” ungkap Charlie Paulus.

Charlie Paulus menjelaskan, pendapatan Bank NTT di tahun 2025 yang tidak mencapai target disebabkan juga oleh beberapa faktor. Pertama, pertumbuhan kredit baru terjadi di akhir tahun 2025.

“Kita tahu, Bank NTT mulai bulan Mei setelah RUPS, pengurusnya belum jelas. Jadi mohon maaf, mungkin di situlah manajemen kurang fokus sehingga kreditnya melambat,” jelasnya.

Selain persoalan kredit, faktor kedua yang turut juga mempengaruhi pendapatan Bank NTT di tahun 2025 adalah situs kredit yang memburuk. Ia menerangkan, akibat memburuknya kredit, Bank NTT menambahkan cadangan yang berdampak pada kenaikan biaya.

“Ketiga, ada beberapa biaya yang sebelumnya itu tidak dibukukan atau dibebankan. Sekarang, setelah saya masuk, saya bilang ini tidak boleh. Harus dibebankan. Mau nanti neraca laba rugi kita kurang bagus, tapi ini kan suatu kenyataan,” ungkapnya.

Terkait poin ketiga, Charlie menguraikan, Bank NTT harus membayar kewajiban kepada Jamkrindo sebesar Rp7,3 miliar, dan kewajiban membayar pajak.

“Kenapa? Kalau kita tidak membayar itu, kita tidak bisa menjalankan KUR, padahal sekarang kita sudah mau menjalankan KUR, belum lagi ada kewajiban pajak. Meskipun kita belum berperkara, tapi saya sudah harus cadangkan biaya ini,” ungkapnya.

Sementara untuk untuk target deviden Bank NTT di tahun 2026, Charlie menargetkan deviden sebesar Rp43 miliar. Ia optimis, dengan struktur manajemen yang lebih stabil dan percepatan penyaluran kredit sejak awal tahun, target tersebut dapat direalisasikan.

“Kita targetkan Rp43,6 miliar, tapi kan baru dihitung sampai tahun depan, dimana perhitungannya akan disesuaikan dengan kinerja tahun berjalan,” tutupnya. ***

Penulis: Don Bosko Beding

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan