(Oleh Florian Mayesti Prima R. Makin: Mahasiswi Doktoral Biologi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta)
KLIKFLOBAMORA.COM – Pernah mendengar tentang Kirinyuh? Bagi beberapa orang Kirinyuh mungkin masih terdengar sangat asing. Kebanyakan orang menganggapnya sebagai gulma, yaitu tumbuhan pengganggu tumbuhan lain. Gulma akan selalu ada dan tidak dapat dihindari.
Namun siapa sangka Kirinyuh yang dianggap gulma ini ternyata menyimpan segudang potensi dan bahkan sudah mulai dimanfaatkan dalam berbagai bidang kehidupan seperti kesehatan, pertanian, dan peternakan.
Untuk itu mari kita berkenalan lebih jauh tentang Kirinyuh, tanaman yang dianggap sebagai gulma bagi sebagian masyarakat yang pantas dibasmi.
Mengenal Kirinyuh
Nama ilmiah dari Kirinyuh adalah Chromolaena odorata. Tumbuhan Kirinyuh dikelompokan dalam Asteraceae/Compositae atau keluarga bunga matahari.
Meskipun dikenal dengan nama umum Kirinyuh atau Krinyuh, tumbuhan ini juga memiliki banyak julukan seperti Gulma Siam, Rumput Belalang, Rumput Golkar, Rumput Putih, dan Bunga Putih.
Bersumber dari beberapa literatur, Kirinyuh memiliki nama lokal sesuai dengan tempat tumbuhnya. Daerah Jawa Barat mengenalnya dengan nama Bebanjaran, di Jawa Tengah dengan nama Krinyo atau Kirinyuh, di Flores dengan nama Sensus atau Krinu, sedangkan di Timor dikenal dengan nama Sufmuti.
Kirinyuh dianggap sebagai gulma karena memiliki sifat yang sangat invasif. Kirinyuh mampu tumbuh dan menyebar dengan cepat, sulit dikendalikan, menguasai lahan kosong yang tidak dimanfaatkan, sangat adaptif di berbagai kondisi tanah, bahkan sangat sulit dibasmi.
Lalu, apakah karena dianggap sebagai gulma sehingga Kirinyuh perlu dibasmi, karena mempertimbangkan eksistensi suatu tumbuhan atau tumbuhan lainnya?
Tentu tidak. Anggapan kirinyuh sebagai gulma yang perlu dibasmi adalah keliru. Kekeliruan seperti ini disebabkan karena keterbatasan informasi dan mindset gulma.
Distribusi dan Penyebaran
Kirinyuh diduga berasal dari Benua Amerika (Tengah dan Utara). Dari sana menyebar ke wilayah lain di benua Amerika, benua Afrika, benua Asia, dan benua Australia. Penyebarannya akan menjadi sangat invasif pada wilayah tropis dan subtropis.
Aktivitas manusia khususnya pada masa perang dunia ke-2 diduga menjadi asal mulanya penyebaran Gulma Siam ini ke Asia Tenggara dan Kepulauan Pasifik, termasuk ke Benua Afrika.
Sekitar tahun 1845, tumbuhan ini diperkenalkan ke India sebagai tanaman hias, dan pada tahun 1876 Kirinyuh telah menjadi tumbuhan yang hidup bebas di Indonesia terutama di Jawa dan Sumatera pada saat pengembangan tembakau di Deli.
Sejak saat itu, tumbuhan Kirinyuh berkembang pesat dan menyebar luas di beberapa wilayah di Indonesia seperti di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Nusa Tenggara Timur.
Ada laporan juga yang mengatakan bahwa mulanya Gulma Siam tersebut sengaja diintroduksi sebagai tanaman obat, akan tetapi beberapa tahun kemudian justru menjadi masalah di beberapa provinsi.
Sumber lain juga mengatakan kirinyuh masuk ke Indonesia pada awal tahun 1910-an, kemungkinan tidak sengaja terbawa oleh para penjajah atau pedagang.
Daya Guna oleh Masyarakat Lokal
Sejak dahulu kala, masyarakat tradisional sudah menggunakan Kirinyuh sebagai obat untuk berbagai penyakit seperti radang tenggorokan, malaria, diare, dan juga penyembuh luka.
Penyembuhan dengan menggunakan Kirinyuh sebagai obat bisa kita lihat pada pada masyarakat tradisional suku Dawan di Pulau Timor, Nusa Tenggara Timur.
Masyarakat Suku Dawan memanfaatkan daun dan bunga Kirinyuh sebagai obat untuk luka baru. Ketika terjadi luka, daun atau bunganya diambil, diramas atau ditumbuk, dan langsung ditempelkan pada luka karena ada zat atau senyawa tertentu yang terkandung di dalamnya.
Sementara itu di negara Vietnam, ekstrak air daun Kirinyuh pun telah digunakan selama bertahun-tahun. Mereka bahkan memformulasikannya menjadi salep eupolian, dan telah dilisensikan untuk penggunaan klinis di Vietnam.
Begitu pula dengan berbagai negara tropis lainnya. Ekstrak daun dan bunga dari Kirinyuh dimanfaatkan juga untuk pengobatan sakit akibat gigitan lintah, luka jaringan lunak, infeksi kulit, dan luka bakar. Kearifan lokal seperti ini tentu memiliki alasan ilmiah apabila dikaji lebih dalam.
Potensi Lain dan Prospek
Penelitian dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir membuktikan bahwa daun dan bunga kirinyuh memiliki banyak senyawa bioaktif.
Potensi bioaktivitas senyawa-senyawa tersebut dapat digunakan pada aktivitas demam tifoid, katarak, tonik jantung, antibakteri, antiinflamasi, antibiotik, antioksidan, analgesik, antipiretik, antidiabetes, bahkan antikanker, menjaga aktivitas homeostatis.
Bahkan senyawa-senyawa bioaktif pada daun dan bunga Kirinyuh telah dikembangakan untuk pupuk organik dan juga menjadi sumber protein alternatif untuk pakan ternak.
Khusus untuk pengobatan malaria, pada daun dan bunga Kirinyuh mengandung antimalria karena memiliki sifat farmakologis. Sifat farmakologis Kirinyuh disebabkan adanya kandungan beberapa golongan senyawa seperti Flavonoid, Fenol, Terpenoid, Alkaloid, Tanin, dan Saponin.
Selain itu, Kirinyuh memiliki efek antioksidan karena flavonoidnya yang tinggi sehingga mampu menghambat proses oksidasi. Salah satu karakter lain dari senyawa bioaktif kirinyuh adalah sifat alelopati.
Senyawa alelokimia yang dikeluarkan kirinyuh mampu mempengaruhi, menghambat, bahkan mematikan organisme lain di sekitarnya. Potensi ini dapat dikembangkan lebih jauh menjadi salah satu produk biopestisida dan bioherbisida yang lebih ramah lingkungan.
Khasiat dari tumbuhan Kirinyuh ini tidak dilebih-lebihkan karena terbukti mujarab sebagai obat tradisional penyembuh berbagai penyakit berdasarkan fakta dari budaya lisan yang menjadi tradisi yang diwariskan secara turun-temurun. Pengalaman masa lalu telah menguji dan membuktikan kemujaraban dari Kirinyuh sebagai obat tradisional.
Dengan demikian, reputasinya sebagai gulma invasif dapat berubah seiring berkembangnya penelitian lanjutan mengenai potensinya. Berbagai upaya perlu dilakukan untuk mengeksploitasi sifat biologis dari “gulma” melimpah ini.
Tumbuhan semak ini akan menjadi contoh yang menunjukkan pentingnya untuk mempertimbangkan dan mengevaluasi spesies gulma yang melimpah sebagai sumber potensial. Informasi tentang spesies ini harus dikumpulkan dari berbagai basis data.
Tumbuhan yang dianggap gulma atau tidak berguna pun ternyata memiliki potensi yang dapat dimanfaatkan dalam kehidupan seperti obat, makanan, pakan, maupun pestisida, dan herbisida alami. ***FMP






