Dari Hangatnya Tenun Sabu Hingga aroma Coffee Eskol28, Dua Wajah UMKM yang Hidup di PESONAS II NTT 2026

Sarlin Gie bersama Rut Nopo pelaku UMKM Lapak Mandalay, dan Roni pemilik kedai coffee Eskol28 di lokasi pameran PESONAS II NTT 2026 (Foto: Roy Beraona)

KUPANG, KlikFlobamora – Gelaran Pekan Special Olympics Nasional II (PESONAS) NTT tahun 2026 bukan hanya soal pameran, tapi soal cerita dan makna.

Di bawah deretan langit-langit tenda, dua cerita anak NTT bertemu, cerita tentang secangkir kopi yang dirintis dari hobi, dan cerita tentang selembar kain tenun yang menyimpan adat ratusan tahun

Di sudut pertama, Warna-warni kain, motif yang rumit, dan wangi pewarna alami menyambut. Itulah Stan UMKM Madalay, yang mencuri perhatian pengunjung.

Madalay menyuguhkan kekayaan budaya. Mereka memboyong kain tenun tradisional khas Sabu dan berbagai aksesoris adat NTT.

Rut Nopo, pengelola UMKM Madalay menjelaskan, setiap helai kain Sabu bukan sekadar kain. Ada aturan dan makna adat di dalamnya.

“Ada Kain Ailedo, kain tenun khusus yang digunakan dalam upacara kedukaan atau penghormatan bagi keluarga yang meninggal dunia. Sedangkan Kain Airaja, adalah kain tenun yang menjadi bagian wajib dalam prosesi peminangan atau hantaran adat pernikahan,” jelas Rut, Kamis (15/10/2026).

Selain itu Rut juga ada juga Kain Motif Umum (Omo), yang fleksibel bisa dipakai harian hingga diolah menjadi busana modern.

Yang membuatnya istimewa, beberapa kain diproduksi tradisional menggunakan pewarna alami, sehingga warna tahan lama dan tidak luntur.

Agar tak lekang zaman, Madalay tak hanya mengandalkan toko fisik mereka di Jalur 40. Mereka sudah masuk ke era digital. Instagram, Facebook, TikTok, WhatsApp, hingga live streaming mereka lakukan untuk menyapa pembeli dari luar NTT.

“Partisipasi kami UMKM Madalay dalam ajang PESOBAS NTT diharapkan dapat semakin memperkenalkan kecintaan masyarakat terhadap produk lokal dan menjaga kelestarian tradisi tenun NTT di tengah perkembangan zaman,” pungkas Rut.

Bergeser beberapa langkah dari Lapak Madalay, ada aroma kopi yang menyengat menuntun langkah ke lapak Coffee Eskol28 milik Roni.

Pemuda bertato yang kini punya lapak tetap di Jalan Palapa itu terlihat santai menjaga gerobak hitamnya.Kisahnya sederhana.Berawal sejak 2020, hanya dari senang-senang dan hobi membuat kopi di rumah, belajar otodidak, tanpa kursus barista mahal.

“Berawal dari senang-senang dan hobi, dan buat untuk minum bersama kawan di rumah,” ujar Roni.Biji kopi hingga bubuknya ia ambil dari petani lokal. Komitmen itulah yang membawanya dari lapak pinggir jalan hingga diundang belajar UMKM ke Makassar.

“Event PESONAS NTT 2026 ini menjadi motivasi baru untuk berkembang. Dari dua hari kegiatan saya mendapat banyak pengalaman dan mendapat relasi untuk membangun branding, untuk keuntungan, urusan ke dua yang penting bagi saya adalah pengalaman, dan membangun relasi”, katanya

Dua stan, dua cerita. Satu tentangan anak muda yang mengubah hobi menjadi kehidupan lewat kopi. Satu tentangan perempuan yang menjaga warisan leluhur lewat tenun

Keduanya bertemu di PESONAS NTT, dengan pesan yang sama, Produk lokal NTT punya kelas, punya cerita, dan layak untuk dibanggakanKalau ke PESONAS NTT, jangan lupa mampir. Seruput dulu Eskol28nya, baru bungkus tenun Sabu dari Madalay untuk dibawa pulang.

CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan, Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.

Penulis: Roy Beraona

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan