KLIKFLOBAMORA.COM – Masa unjuk rasa gabungan dari sejumlah organisasi kemasyarakatan (Ormas) yang ada di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), berorasi di depan Gedung DPRD Provinsi NTT menyikapi tindakan anarkisme dan perusakan serta pembubaran acara kerohanian sejumlah pelajar Kristen dari Jakarta, di Tangkil, Sukabumi.
Dalam orasi itu, mereka menuntut agar proses hukum terhadap para pelaku yang saat ini sudah ditahan pihak berwajib, agar ditindak seadil-adilnya menurut ketentuan Undang-Undang yang berlaku di Republik Indonesia.
Secara khusus massa aksi menyoroti langkah yang diambil oleh Kemenkumham, yang akan menyurati Kepolisian demi penangguhan penahanan terhadap para pelaku intoleran di Tangkil, Sukabumi, Jawa Barat, sebagai langkah yang tidak mencerminkan rasa adil dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia.
Mereka bahkan menduga, Kemenkuham juga terlibat dalam aksi memalukan tersebut. Tidak segan mereka menyebut, Kemenkumham sebagai bagian dari pelaku tindakan intoleransi terhadap kelompok minoritas di negeri ini.
“Apakah mereka (KemenHAM) juga bagian dari pada mereka (para pelaku intoleran) yang telah melakukan kekerasan ini? Kenapa mereka diberi hati, dan penangguhan? Jangan-jangan nanti setelah diproses hukum, setelah dipenjara, para pelaku ini nanti di dalamnya malah mendapat asimilasi,” seru Ferdy Wadu, orator dari Ormas besutan Rosario De Marshall atau Hercules, GRIB Jaya NTT.
Menariknya, dalam Orasi tersebut, seorang laki-laki berambut lurus, panjang, dan berkulit putih, bernama Sidar alias Dablo tampil di depan, di antara pagar betis pengamanan dari Polisi dan gerombolan massa ormas yang sedari tadi menanti Dewan yang terhormat untuk bisa berdialog dengan massa aksi.
“Nama saya Sidar, panggilan Dablo. Agama saya Muslim. Saya lahir di Kupang. Orang tua dari Jawa. Selama saya melakukan ibadah atau kegiatan Muslim lainnya, tidak ada gangguan dari saudara kita yang beragama Nasrani. Apapun kegiatan itu, sama sekali tidak ada,” ungkap Sidar.
Sidar yang diberi panggung untuk tampil dalam orasi memberi kesaksian tentang hidup bertoleransi satu dengan yang lainnya, berkisah tentang orang tuanya yang merupakan orang Jawa dan ia sendiri lahir dan dibesarkan di Kupang.
Sidar yang memahami nilai kerukunan beragama karena mengalami kehidupan toleransi di NTT, menyampaikan permintaan maaf sebesar-besarnya atas kejadian berupa tindakan intoleransi di Sukabumi. Ia mewakili keluarga besar Muslim yang ada di NTT.
“Harapan saya, kita tidak ingin permusuhan.Yang kami inginkan kita bersaudara. Kami merangkul semua. Jadi tidak ada serasa kecemburuan. Untuk itu, saya sampaikan terima kasih untuk saudara-saudara saya. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,” pungkasnya.
Massa yang hadir bertepuk tangan untuknya. Mereka berharap, cerita Sidar mampu membuka mata dan hati seluruh masyarakat Indonesia untuk bisa bercermin pada toleransi beragama di NTT demi Indonesia yang rukun dan damai. ***
Penulis: Don Bosko Beding






