KLIKFLOBAMORA.COM – Senator asal Papua, Paul Finsen Mayor atau PFM mengecam dan mengutuk keras tindakan pemusnahan mahkota Cendrawasih yang dipimpin langsung oleh kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya (BBKSD) Provinsi Papua, Jhonny Santoso Silaban.

Ia menilai tindakan yang diambil oleh Jhonny Santoso Silaban sebagai sebuah tindakan yang melecehkan adat istiadat dan budaya orang asli Papua, karena yang seharusnya dilakukan oleh Jhonny Santoso Cs. adalah memuseumkan mahkota Cendrawasih dan bukan dibakar, divideokan, dan lalu diviralkan.

Karena itu PFM meminta Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) untuk segera memberhentikan tidak dengan hormat Jhonny Santoso dari jabatannya sebagai Kepala BBKSD Provinsi Papua, sebelum amarah masyarakat Papua meluas di mana-mana.

“Ini soal harga diri orang Papua. Ini soal harkat dan martabat orang Papua. Saya sebagai orang Papua mendesak agar kementerian terkait segera mencopot Jhonny Santoso Silaban! Kalau datang ke Papua maka belajar jati diri, budaya, dan adat-istiadat orang Papua,”  ucap PFM, (22/10) siang di Jakarta.

Sementara itu, Perhimpunan PASTI (Partisipasi, Adil, Strategis, Transparan, Inspiratif) pun turut mengecam tindakan tersebut sebagai sebuah tindakan yang tidak hanya melawan hukum dan etika, tetapi tindakan keras simbolik yang mengajarkan kebencian.

PASTI secara khusus menyoroti keterlibatan aparat negara TNI/POLRI yang turut hadir dan ikut melakukan pembakaran mahkota Cendrawasih yang merupakan simbol adat suku-suku di Papua dan biasa dikenakan pada ritual-ritual adat orang Papua.

PASTI menuding tindakan aparat TNI/POLRI ini bukan hanya sebagai bentuk pelanggaran etika dan hukum, tetapi juga merupakan bentuk kekerasan simbolik yang mengajarkan kebencian dan memperdalam jurang ketidakpercayaan antara masyarakat adat dan institusi negara.

Menurut PASTI, mahkota Cendrawasih Papua adalah simbol kehormatan, spiritualitas, dan identitas kolektif masyarakat adat. Ia bukan barang bukti yang layak dimusnahkan, bukan ornamen seremoni yang bisa diperlakukan sewenang-wenang, tetapi merupakan Simbol adat yang harus dihargai, dilindungi, dimuliakan, dan dikembalikan kepada pemiliknya: masyarakat adat Papua.

Sebelumnya beredar sebuah video viral di berbagai platform media sosial acara seremonial pemusnahan mahkota Cendrawasih yang dilakukan oleh sejumlah orang, termasuk Kepala BBKSD Provinsi Papua serta oknum aparat keamanan TNI/POLRI di halaman kantor BBKSD Provinsi Papua.

Video tersebut kemudian direspon dengan aksi protes oleh sejumlah pengguna media sosial dan aksi demonstrasi kelompok masyarakat asli Papua. Mereka mengecam tindakan Kepala BBKSD Cs. tersebut sebagai sebuah perbuatan tidak menghargai budaya lokal orang asli Papua (OAP). ***

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan